Filosofi yang mendasari pembangunan di Yogyakarta adalah ”Hamemayu Hayuning Bawana”, sebagai cita-cita luhur untuk mewujudkan tata nilai kehidupan masyarakat Yogyakarta berdasarkan nilai budaya. ”Hamemayu Hayuning Bawana” mengandung makna sebagai kewajiban melindungi, memelihara serta membina keselamatan dunia dan lebih mementingkan berkarya untuk masyarakat daripada memenuhi ambisi pribadi. Dunia yang dimaksud mencakup seluruh peri kehidupan baik dalam skala kecil (keluarga), ataupun masyarakat dan lingkungan hidupnya, dengan mengutamakan darma bakti untuk kehidupan orang banyak, tidak mementingkan diri sendiri, demikian disampaikan oleh Drs. H. Totok Sudarto, M.Pd dalam pengajian Ahad Pagi yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Al Muhajirin Patuk Gunungkidul (24/22/2024).
Terinspirasi oleh ajaran budaya dan filsafat Jawa, Memayu Hayuning Bawana mengandung pesan tentang pentingnya menjaga harmoni dan mencapai kesejahteraan dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata "Memayu Hayuning Bawana" berasal dari bahasa Jawa yang memiliki arti mendayagunakan kehidupan ini dengan baik untuk mencapai kesejahteraan dan kedamaian. Secara harfiah, "Memayu" berarti menyayangi, "Hayuning" berarti kedamaian atau harmoni, dan "Bawana" berarti dunia atau kehidupan.
Konsep ini mewakili pandangan hidup masyarakat Jawa yang menghargai kearifan lokal dalam menghadapi kehidupan sehari-hari.
- Memayu: "Memayu" berasal dari kata "mayu" yang berarti indah atau cantik. Dalam konteks "Memayu Hayuning Bawana," "memayu" mencerminkan keinginan untuk menciptakan keindahan dalam segala aspek kehidupan. Hal ini tidak hanya mencakup keindahan fisik, tetapi juga keindahan perilaku, pikiran, dan lingkungan.
- Hayuning: "Hayuning" berasal dari kata "ayu" yang berarti baik atau sejahtera. Oleh karena itu, "hayuning" merujuk pada keinginan untuk mencapai kesejahteraan, baik secara pribadi maupun bersama-sama dalam masyarakat. Hal ini melibatkan keharmonisan, ketentraman, dan kebahagiaan.
- Bawana (Alam Semesta): "Bawana" dapat diartikan sebagai alam semesta atau dunia. Dalam konteks "Memayu Hayuning Bawana," "bawana" menunjukkan keinginan untuk mencapai kesejahteraan dan keindahan dalam konteks yang lebih luas, termasuk harmoni dengan alam dan lingkungan sekitar.
Dimensi Memayu Hayuning Bawana
- Kesejahteraan dan Harmoni: Memayu Hayuning Bawana menekankan pentingnya mencapai kesejahteraan secara menyeluruh, baik dalam aspek fisik, mental, maupun spiritual. Harmoni dalam hubungan antarindividu, dengan alam, dan dengan Tuhan dianggap sebagai pondasi kesejahteraan.
- Kerja Sama dan Solidaritas: Konsep ini juga menekankan pentingnya kerjasama dan solidaritas dalam mencapai tujuan bersama. Masyarakat Jawa meyakini bahwa dengan saling membantu dan bekerja sama, mereka dapat menciptakan lingkungan yang sejahtera dan penuh harmoni.
- Penghargaan terhadap Alam dan Lingkungan: Memayu Hayuning Bawana mencerminkan kearifan lokal dalam menjaga keseimbangan dengan alam. Sikap penghargaan terhadap lingkungan, menjaga kelestarian alam, dan bertindak sebagai penjaga bumi merupakan nilai-nilai yang tercermin dalam konsep ini.
Pada penerapannya, Memayu Hayuning Bawana juga berkaitan dengan kehidupan sehari-hari:
1. Etika dalam Hubungan Sosial
Memayu Hayuning Bawana mendorong etika dalam hubungan sosial. Menghargai dan menyayangi sesama menjadi prinsip utama, menciptakan lingkungan yang penuh dengan kasih sayang dan rasa saling menghormati.
2. Pengembangan Diri
Konsep ini juga mencakup pengembangan diri melalui kebijaksanaan dan spiritualitas. Menjaga keseimbangan antara tuntutan dunia material dan kebutuhan spiritual dianggap penting untuk mencapai kesejahteraan sejati.
3. Partisipasi Aktif dalam Masyarakat
Memayu Hayuning Bawana mengajarkan pentingnya partisipasi aktif dalam masyarakat. Masyarakat Jawa diyakini dapat mencapai kemajuan melalui kerja sama, saling mendukung, dan berkontribusi pada keberhasilan bersama.
1. Etika dalam Hubungan Sosial
Memayu Hayuning Bawana mendorong etika dalam hubungan sosial. Menghargai dan menyayangi sesama menjadi prinsip utama, menciptakan lingkungan yang penuh dengan kasih sayang dan rasa saling menghormati.
2. Pengembangan Diri
Konsep ini juga mencakup pengembangan diri melalui kebijaksanaan dan spiritualitas. Menjaga keseimbangan antara tuntutan dunia material dan kebutuhan spiritual dianggap penting untuk mencapai kesejahteraan sejati.
3. Partisipasi Aktif dalam Masyarakat
Memayu Hayuning Bawana mengajarkan pentingnya partisipasi aktif dalam masyarakat. Masyarakat Jawa diyakini dapat mencapai kemajuan melalui kerja sama, saling mendukung, dan berkontribusi pada keberhasilan bersama.

