KUA Patuk Gelar Ikrar Wakaf Warga Ngoro-oro Patuk

Hadir Kepala KUA Patuk H. Wahyu Endardi S.Sos.I selaku Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf (PPAIW), Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Patuk Khoiri S.Pd M.Pd., Divisi Wakaf PCM Patuk Sugit, saksi Tukimin dan Jumari, wakif (orang yang wakaf) Paijan serta keluarganya. Ikrar wakaf ini dilaksanakan di ruang balai nikah KUA Patuk. Jum’at (27/12/2024).

Dalam sambutannya, Kepala KUA Patuk Wahyu Endardi menyampaikan rasa terima kasih kepada wakif yang telah mewakafkan sebidang tanah pribadinya agar dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat. Selain itu, Wahyu juga memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada segenap pengurus PCM, khususnya bidang wakaf yang telah gencar sosialisasi pencatatan wakaf tanah di wilayah KUA Patuk. "Semoga gerak kita dibidang perwakafan menjadi amal jariyah kita serta bisa menyukseskan dan mendukung program Gunungkidul sebagai Kota Wakaf," katanya.

Refleksi Akhir Tahun 2024, Muhammadiyah Soroti Lima Hal

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyampaikan Refleksi Akhir Tahun 2024. Refleksi yang disampaikan di Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Senin (30/12) ini menggarisbawahi pentingnya mengambil hikmah dari perjalanan satu tahun terakhir. “Satu tahun berlalu memberi banyak pelajaran. Hikmah itu harus menjadi bekal moral dan spiritual dalam menyongsong tahun mendatang,” ujarnya. Haedar menyoroti fenomena perayaan tahun baru yang sering diwarnai hiruk-pikuk pesta kembang api, seraya mengingatkan bahwa pergantian tahun seharusnya menjadi momen refleksi. “Tahun lama sebenarnya mengurangi usia kita. Islam melalui surat Al-‘Ashr telah mengajarkan kita betapa pentingnya waktu. Semua manusia akan merugi, kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran,” tegas Haedar. Dalam refleksi tersebut, Muhammadiyah memandang masa depan bangsa sebagai rangkaian yang utuh, di mana pencapaian fisik yang luar biasa, seperti pembangunan infrastruktur, harus disertai dengan perbaikan di bidang sosial, moral, dan spiritual. Haedar menyoroti berbagai persoalan yang masih mengemuka, dari keringkihan rohani masyarakat, budaya korupsi, hingga harapan kebijakan yang pro rakyat. Pertama, agama harus hadir sebagai kanopi suci, menjadi oase di tengah kegersangan rohani. Namun, semakin ke sini, agama cenderung tumpul dan hanya menjadi hiburan.