Laman
- Beranda
- Struktur Organisasi
- Pimpinan Cabang
- Program Kerja PCM
- 1. Pimpinan Ranting Beji
- 2. Pimpinan Ranting Bunder
- 3. Pimpinan Ranting Nglanggeran
- 4. Pimpinan Ranting Nglegi
- 5. Pimpinan Ranting Ngoro-oro
- 6. Pimpinan Ranting Patuk
- 7. Pimpinan Ranting Pengkok
- 8. Pimpinan Ranting Putat
- 9. Pimpinan Ranting Salam
- 10. Pimpinan Ranting Semoyo
- 11. Pimpinan Ranting Terbah
- Bidang dan Majelis
- Bidang Tarjih dan Tajdid
- Bidang Tabligh
- Bidang Pendidikan Dasar dan Menengah
- Bidang Pendidikan Kader
- Bidang Pembinaan Kesehatan Umum
- Bidang Pelayanan Sosial
- Bidang Ekonomi dan Pemberdayaan Masyarakat
- Bidang Wakaf dan Kehartabendaan
- Bidang Hukum dan Hak Asasi Manusia
- Bidang Lingkungan Hidup
- Bidang Pustaka dan Informasi
- Bidang Pembinaan Ranting dan Jamaah
- Bidang Hikmah dan Kebijakan Publik
- Bidang Seni, Budaya, dan Olahraga
- Bidang Pembinaan Haji dan Umrah
- Gerak dan Landasan
- Data PCM
- Penghargaan
- Gallery dan Sosmed
- Arsip
- Kontak Kami
Setiap Guru Muhammadiyah Harus Jadi Guru Petarung Seperti KH Ahmad Dahlan
“Guru Muhammadiyah itu harus menjadi guru petarung, KH Ahmad Dahlan itu guru petarung, pendahulu-pendahulu Muhammadiyah mendidik untuk jadi (mental) petarung, jadi bukan cengeng, bukan guru yang lembek, guru yang plonga-plongo lolah-lolo, tapi harus unggul dan jadi petarung,” tegasnya.
Dalam pelantikan pengurus FGM Pusat periode 2023-2027 di Graha As Sakinah SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta, Selasa (9/5), Fahri lalu menjelaskan arti frasa ‘petarung’ sebagai susunan makna akronim.
Petarung, dalam arti positif adalah Penuh mimpi, berjiwa Entrepreuneur, Tangguh, Amanah, Responsif, Unggul.
“P-nya itu penuh mimpi dan inovasi. Sekolah Muhammadiyah kalau gurunya tidak punya mimpi besar dan tidak punya inovasi besar, maka selamanya sekolah itu adalah sekolah la yamutu wa la yahya, tidak bermutu dan tidak ada biaya,” jelasnya.


