Setiap Guru Muhammadiyah Harus Jadi Guru Petarung Seperti KH Ahmad Dahlan

Mengakhiri masa Ketua Forum Guru Muhammadiyah (FGM) periode 2020-2022, Fahri, berpesan pada kepengurusan FGM periode 2023-2027 untuk membentuk mental guru-guru Muhammadiyah sebagai guru petarung dalam arti positif.

“Guru Muhammadiyah itu harus menjadi guru petarung, KH Ahmad Dahlan itu guru petarung, pendahulu-pendahulu Muhammadiyah mendidik untuk jadi (mental) petarung, jadi bukan cengeng, bukan guru yang lembek, guru yang plonga-plongo lolah-lolo, tapi harus unggul dan jadi petarung,” tegasnya.

Dalam pelantikan pengurus FGM Pusat periode 2023-2027 di Graha As Sakinah SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta, Selasa (9/5), Fahri lalu menjelaskan arti frasa ‘petarung’ sebagai susunan makna akronim.

Petarung, dalam arti positif adalah Penuh mimpi, berjiwa Entrepreuneur, Tangguh, Amanah, Responsif, Unggul.

“P-nya itu penuh mimpi dan inovasi. Sekolah Muhammadiyah kalau gurunya tidak punya mimpi besar dan tidak punya inovasi besar, maka selamanya sekolah itu adalah sekolah la yamutu wa la yahya, tidak bermutu dan tidak ada biaya,” jelasnya.

Hamemayu Hayuning Bawana

Filosofi yang mendasari pembangunan di Yogyakarta adalah ”Hamemayu Hayuning Bawana”, sebagai cita-cita luhur untuk mewujudkan tata nilai kehidupan masyarakat Yogyakarta  berdasarkan nilai budaya. ”Hamemayu Hayuning Bawana” mengandung makna sebagai kewajiban melindungi, memelihara serta membina keselamatan dunia dan lebih mementingkan berkarya untuk masyarakat daripada memenuhi ambisi pribadi. Dunia yang dimaksud mencakup seluruh peri kehidupan baik dalam skala kecil (keluarga), ataupun masyarakat dan lingkungan hidupnya, dengan mengutamakan darma bakti untuk kehidupan orang banyak, tidak mementingkan diri sendiri, demikian disampaikan oleh Drs. H. Totok Sudarto, M.Pd dalam pengajian Ahad Pagi yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Al Muhajirin Patuk Gunungkidul (24/22/2024).

Terinspirasi oleh ajaran budaya dan filsafat Jawa, Memayu Hayuning Bawana mengandung pesan tentang pentingnya menjaga harmoni dan mencapai kesejahteraan dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata "Memayu Hayuning Bawana" berasal dari bahasa Jawa yang memiliki arti mendayagunakan kehidupan ini dengan baik untuk mencapai kesejahteraan dan kedamaian. Secara harfiah, "Memayu" berarti menyayangi, "Hayuning" berarti kedamaian atau harmoni, dan "Bawana" berarti dunia atau kehidupan.